On Desember 06, 2019 by Kojerisme in Cerpen-Cerpenan No comments
Rumitnya
perasaan perempuan sehingga sang mantan tidak bisa mengidentifikasi gojolak
rasa rindu Sisila kepada dirinya. Sang mantan hanya fokus terhadap bagaimana ia
menjadi seorang lelaki yang bisa menaklukan setiap perempuan.
___________________
Satu minggu
berpacaran. Basruk sudah bisa membuat Susana menjadi genting, ada yang tak
percaya, ada pula yang menganggapnya sebuah lelucon tentang setatus pacarannya
bersama Sisila. Sisila adalah seoarang gadis sedikit seksi yang konon suka
berpetualang. Ia biasa menggunakan celana jins ketat sebagai bawahannya tak
lupa berjilbab sebagai atasannya, menikah dengan orang yang ia cintai merupakan
cita-citanya.
Setelah
beberpa minggu sesudah camp di Pantai Moksa, Basruk sudah berani
mempublikasikan fhoto Sisila, mengajaknya kencan mengelilingi kota mataram dan
sekitarnya, bahkan nonton bioskop Di Eficentrum mall XX1.
Sang Mantanpun
mulai tak terlihat di keramaian, menyibukan diri di dunia Kampus mengeluarkan
taringnya sehingga ia bisa merebut perhatian para perempuan kohati
(Korp-HMI-Wati) bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam yang bergerak di bidang
Perempuan. Ia juga mulai berlagak seperti mahasiswa libralis kritis religious.
Mulai mengasingkan diri dan tidak tertarik lagi di dunia pencinta Alam, mendaki
gunung dan camp di panatai-pantai.
“aku ingin
fokus kuliah, mencari penegetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Bila
perlu aku akan masuk organisasi.” katanya sambil menyeruput kopi pahit di
warung sederhana 24 jam Milik mamik Bidin bersama si Jeki kawanya waktu sering
mendaki gunung.
“bukankah
dulunya kamu mau menghibahkan dirimu di alam, sebagai pencinta alam selamanya.”
Kata Jeki mengingatakan.
“aku tiba-tiba
benci dengan semuanya itu, namun aku tetap diam untuk menghormati.”
“yaaaahh..
mungkinkah karena kamu putus cinta dengan Sisila memebuatmu seperti ini.”
Sambil tersenyum di iringi seruputan nikmat STMJ hangat.
“Arooo Ubbek
jangan bahas, itu menyakitkan. Ndk q bayarang kamu STMJ ni bareh.”
“oooh maaf,,
maaf kakak!”
Kebiasan
mereka (sang mantan bersama teman-temanya) setelah pulang dari panatai moksa
atau kelaparan di tengah malam dan sepulang Retek (Jap japan) adalah membeli
mie di warung sederhana 24 jam milik Mamik Bidin, disana mereka sering jadikan
temapat berbagi tawa, canda dan rasa. Terkadang Sedikit berdiskusi tentang
hal-hal serius samapai membahas isu-isu percintaan yang sangat konyol dan
memalukan.
Mereka hanya
bisa belanja di warung 24 jam itu, tak cukup uang untuk membeli makanan di
super market, makan di cafe dan nonton bioskop sekali seumur setahun, itupun
kalau ada yang ngajak mereka. Harga yang bersahabat dan satu-satunya warang 24
jam mengistiqomahkan mereka untuk menjalin keakraban bersama Mamik bidin dan
para chef cantiknya. Namun tidak ada yang tidak tahu warung ini. Rasa mie
kuahnya, rasa mie gorengnya khas dan punya cita rasa yang memnajakan lidah.
___________________
Saat dimana
Basruk dan beberpa temanya pulang dari majlis merah muda sekitar pukul satu
malam. Mereka selalu singgah di warung 24 jam ini. Membicarakan Sisila dengan
semangat dan penuh rasa kecemasan. Kebiasan sombong dan takaburnya mulai
kelihatan, semenjak ia berhasil memikat hati Sisila lewat curhatan malapetaka
waktu di panatai moksa itu.
“ada yang tidak
beres dari si Basruk” kata si Oyon, yang merupakan kawan dekatnya si Basruk.
“bukankah si
Basruk sangat berkawan baik dengan sang manatan.” ungkap si jeki kepada Oyon.
“akupun pernah
menanyakan hal itu, tapi saya langsung di sumpak (dikatai kotor).” Jeki
menambhakan.. Waktu mereka ngobrol di Warung Mamik Bidin bersama sang mantan.
“mungkinkah
sang mantan cemburu, setelah mengetahui Si Basruk berpacaran dengan Sisila.
Sehingga ia tak mau lagi ngebahasnya.?” Ungkap analisis si Oyon kepada si Jeki.
“soal itu aku
tidak tahu gaaees. Liat saja nanti apa yang tidak beres dari mereka bertiga.”
Setiap jarak
satu malam Basruk berada di majlis merah muda, pulang dari sana, parkir montor
dirumahnya Jeki, lalau jalan kaki ke warung Mamik Bidin yang jaraknya kurang
lebih seratus meter dari rumah Jeki. Si Basruk berjalan seperti kepiting di
panatai Moksa, miring tak teratur. Ia mengungkpakan kesombonganya, terus di
layangkan karena telah mendapatkan hati Sisila. Hampir setiap malam Basruk
seperti ini. Terlihat seperti merayakan kemenangan. Sering kali mengundang
temen-temenya dan membuat keributan samapai pagi, ini ia lakukan untuk
merayakan kemenangan yang misterius.
Tak jauh dari
kamar Si Basruk, ada Musholla, yang biasanya lewat adzan subuh menjadi pembatas
keributan mereka bersama teman-temannya. Adanaya WI-FI yang dipasang oleh
tetannganya, membuat Basruk sangat betah berlam-lama di dalam kamarnya bersama
temannya, di kamarnya terdapat putukan rokok berserakan, noda-noda bekas kopi
nempel di lantai, bantal dan guling terlihat sepeti gamabaran bentuk permukaan
bumi yang garisnya terbuat dari tinta alami yang keluar dari usus manusisa.
Semua akan
betah disana, yaa kecuali anak-anak yang masih bersih jiwa dan raganya mereka akan
memilih tempat kumpul yang sesusi dengan habitat dan lif style nya. Bagi yang
hidupnya hanaya memikirkan bagaimana internet lancer, rokok tak pernah padam
dan kopi terhidangkan akan betah di sini. Tak peduli dengan bau kentut yang
sling serang setiap pagi, tak peduli tidur bersama putukan rokok asalakan
yotube dan ceremah Abdul Somad tetap menginspirasi, nonton film XX1, nonton
bokep dengan super Vpn.
Tak disadari
disini tempatnya terungkap hal yang tidak beres anatara Sisila dan Si Basruk,
seperti yang pernah di katakana oleh Si Iyon kepada Si Beki. Pada mulanya
Basruk merahasiakan ini semua, namun yang ia inginkan sudah ia dapatakan, salah
satunya kemenagannya dari si Sumut dan Si Halim.
Ternyata
setelah ngecamp di panatai Moksa, Basruk telah membuat tantantang bersama si
Sumut dan Halim. Bahwa siapa yang bisa menaklukan dan mendapatkan hati serta perasaan Sisila ialah
pemenangnya dalam tantangan ini, standar kemenangan adalah mengajak Sisila
kencan dan mengupload fhotonya di Wahttsap. Yang menang akan di belikan sepulah
jambu biji yang sudah dibuat menjadi minuman Jus.
Mengingat ini
adalah tantangan. beberpa teknik dan setrategi masing-masing, mereka susun
untuk meraih gelar dan setataus pacaran dengan Sisila. Disini Sumut berada
dalam jalur yang jauh, kerena sebelumnya ia tidak pernah di kenal oleh Sisila,
begitu juga dengannya ia baru sekali melihat Sisila, itupun waktu di atas motor
ketika Sisila bergoncengan dengan sang Mantan setelah pulang dari Tanjung Bias
sebuah café di Montong Batu Layar. Sumut harus membutuhkan waktu lama untuk
memenangkan tantangkan ini atau tidak dengan jalan pintas seperti menggunakan
doa dari Kitab-kitab klasik. Hahah
Beda halnya
dengan si Halim, sudah saling mengenal namun belum banyak tahu, ia hanya tahu
bahwa Sisila merupakan pacarnya sang mantan, tak lebih dari itu, ia juga
mengenal Sisila sebagai perempuan yang baik punya loyalitas dan ramah
lingkungan. Setrategi yang akan ia gunkan untuk memenangkan tantangan adalah
Bohong-bohongan. Ia akan mendekati Sisila dan mengajak untuk konpromi dan
berpura pura jadi pacarnya, namun itu tidak bisa terjadi, karena Halim belum
pernah mencoba dan tidak mau mencoba.
Dan berbeda
sekali dengan Si Basruk Bereokan, ia sudah mengenal Sisila jauh-jauh hari, dan
utungnya ia sudah mendapatkan poin ketika di pantai Moksa, ketika Sisila
menangis tersedu-sedan terhanyut ditepi panatai Moksa. Si Basruk disana seperti
seorang pahlawan kemalaman, Basruk menyumbangkan bahunya untuk Sisila bersandar
waktu itu. Bisa dikatakan kesemptan terbesar untuk memenangkan tantangan ini
adalah Basruk Si Bereok.
Sisila, Siti
dan Rabiah tidak tahu tentang tantantangan ini. “kalau Sisila tahu bahwa ia
sedang di taruhkan, mungkin ia meresa sedang mimpi buruk.” Kata Halim Menggumam
kepada si Basruk. Sesekali mereka pada tengah malam membahas tantangan ini di
pertigaan sambil minum Es dan merokok yang mereka beli dari warung 24 jam itu.
“intinya
sekarang saya sudah berpacaran denga Sisila. Kapan kamu mau bayar utangmu
kepadaku, ? membelikan akau sepuluh jambu biji yang sudah di jadikan jus.!”
Katanya mengingatkan Si Halim.
“sumpah aku
tidak percaya bahwa kamu sudah mendapatkan Sisila.” Halim membantah pernyataan
Basruk.
Basruk
berjalan menuju got irigasi yang berdekatan dengan rumah Beki, dengan tergesa
gesa membuka ritsleting celananya, menyiram tembok tembok di depanya sedkit
menggoyangkan pantatnya dan berkata sambil menengok kebelakang tempat si Halim
duduk “kalau kamu tidak percaya, tanaya saja Sisila, bahwa akau adalah pacarnya
sekarang.” Mengatai Si Halim sembari menutup kembali ritsleting celana jinsnya.
Malam digantikan
siang, teradisi bangun siang adalah adalah kebanggan Basruk, sinar matahari
pagi hampir tak berani denganya. Sore hari rebahan ke Pantai Moksa. Rotasi kehidupan
seperti ini terus dijalani hingga samapai pada suatu saat dirinya mengalami struk cinta, hatinya melebur
bersama dalam rasa sehingga memaksanya kembali kepangkuan perempuan yang ia
cintai sesungguhnya.
Sisila hanya
sebuah tantangan bagi mereka, namun kecemburuan datang silih berganti dari sang
Mantan, ia tak pernah berkata, namun sikap dan lakunya sanagat aneh, sepertinya
ia termakan Senjata makan Rindu. Hahaha..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
About
Popular Posts
-
Banyak yang suka pamer kebodohan dengan pakaiaan kepintaran, orang banyak mengeluhkan dampak negatif smartphone, internet dan media so...
-
Kemarin malam. Tepatnya malam minggu, Setelah pulang dari Gyem lok Oyok menyumpahi para cecunguk-cecunguk yang tengah asyik MABAR Mobile Le...
-
Sekolah lapang agrobisnis kedelai adalah sebuah program yang di galakan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan pemerintah Desa Sese...
Blogroll
Categories
Blog Archive
semeton jori senamian. Diberdayakan oleh Blogger.
Bersengg Agama
Bilamana Senjakala Tiba, Doa-Doa kami saling bicara, hingga petang menjelang, Seperti suara Air mengalir💧 dan kiacawan burung🐦Kacer, Mel...

0 komentar:
Posting Komentar