Banyak yang suka pamer kebodohan dengan pakaiaan kepintaran, orang banyak mengeluhkan dampak negatif
smartphone, internet dan media sosial terhadap kebobrokan moral generasi
bangsa, namun tidak ada satupun gerakan sistematis yang dibangun untuk
membendungnya, melihat ini, sama dengan situasi perasaan sepasang kekasih yang
sedang dilanda “benci tapi merindu”, mengutuk media sosial lewat media sosial.
Kalau di cermati secara mendalam, setiap kemajuan yang menimpa generasi bangsa pasti bertujuan untuk mempermudah setiap urusan dalam segala bidang,
kemajuan dilihat oleh sebagian orang sangat identik dengan mesin atau secera
garis besar sering disebut dengan kemajuan teknologi.
Kemajuan teknologi sama sekali tidak ada urusan dengan moral anak bangsa,
moral sejatinya di pupuk dari komunikasi positif dan merutinkan pemberian
nutrisi pikiran dan hati (perasaan). Jadi terlalu bertepuk sebelah pikir jika
media sosial di tuduh sebagai biang kerok atas hancurnya moral generasi bangsa.
Media tekonologi informasi sejatinya adalah media untuk mempermudah penyebaran peristiwa
baik yang bernuansa negative maupunl positif, kesalah kaprahan dalam
menafsirkan kemajuan teknologi kemungkinan besar karena ia didominasi datang
dari Barat bukan dari timur. Oleh sebagian banyak orang Setiap yang datang dari
barat dinilai sebagai sesuatu yang bughot (keluar dari ajaran moral).
Tidak ada hukuman pada media, sehingga ia tidak bisa di adili oleh
siapapun, semisal lihatlah Aplikasi tik tok yang sekarang tengah mewabah
keseluruh penjuru negri, di jadikan media untuk berekpresi oleh para remaja dan
pemuda Indonesia, namun karena Tik tok didominasi oleh para gadis yang hobi
menyedekahkan kemolekan senyum dan keindahan tubuh ciptaan Tuhan itu, lalu tik
tok lah yang di anggap sebagai pemeran utama dalam memberi ruang untuk memporak
porandakan moral generasi bangsa, padahal jelas sekali itu hanya tergantung
pengguna tik tok itu sendiri, dan segala yang Indah dan membuat orang bersyukur
pasti akan lebih digemari oleh warganet Indonesia.
Entah siapa yang pertama kali membawa istilah baik dan buruk, padahal
semua orang hidup dan mencari makan lewat istilah itu. Lihat Pelacur,
pencuri, pencopet,germo, koruptor,penjual daging babi,pembunuh bayaran dan
lain lain mereka semua bersetubuh dengan keburukan supaya dapat merasakan orgasme
dengan rizki anugrah Tuhan. dan coba lihat Motivator, penceramah, Polisi,
Guru di Sekolah, PNS dan lain lain meraka harus dan butuh menghakimi,
mencerca dan mengutuk keburukan di setiap tempat, waktu, momen dan kesempatan
demi meraih ketenaran dan mencukupi kebutuhan hidup. Kejahatan dan keburukan di
umpat dituding-tuding malah sering dituduh sebagai pembawa bencana alam dan
malapetaka. itu semua dilakukan sebagai profesi dan keahlian untuk bertahan
hidup memenuhi kebutuhan primer, skunder dan tersier.
moral hanya dagangan laris manis ketika pegalaran pemilu akan digelar,
media masa dan cetak sebagai promotor yang di perbutkan untuk mempermudah
pemasaran supaya cepat sampai pada konsumen (warga). Tidak ada yang salah
dengan strategi ini, semua yang dilakukan pasti ada sebab dan akibatnya, entah
itu di nilai positif atau negatif tergantung wawasan konsumen dalam membaca dan
memilah barang yang diperjual belikan di pasar moral. Tidak ada seorangpun yang
sudi ketika keburukannya diperlihatkan dimuka umum, meskipun ada, itu hanyalah
kampulase supaya tidak diakatakan muanfik, lantas berlaga bahwa ia natural
tampil apa adanya di media, padahal hanya Tuhan yang tahu niat dan tujuan
hambanya.
Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat membuat segala sesuatu
menjadi transparan, namun kadang penuh kepura-puraan belaka, belakanagan ini
peperangan sering berlangsung lewat media mainstream yang kadang isu-isu hoax
dan sejarah masa lalu dijadikan amunisi untuk menyerang lawan demi memenangkan
pertarungan di dunia maya, keselahan dicari-cari lewat jejak digital seperti
gamabar dan video lalau disebarkan di media sosial dengan sedikit bumbu qaption
sebagai penyedap warganet untuk menonton kemudian menyebarkan.
Dari rangkaian di atas kita bisa sedikit berhipotesa, bahwa tidak ada
korelasi antara kehancuran moral dengan kemajuan teknologi, tapi kejahatan
(dosa) akan mudah dilakukan secra sistematis efektif, efisien dan masip begitu
juga dengan kebaikan. Khittoh dari teknologi yaitu untuk hijrah dari kesulitan
menuju kemudahan. Seperti apa yang telah di mention oleh Imam Ali Bin Abi
Thalib “Kebenaran (kebaikan) yang tidak terorganisir akan kalah melawan
Kebatilan (keburukan) yang terorganisir”. Hadirnya teknologi
sebagai penjelmaan dari kebaikan dan keburukan yang bermetmorfosis menjadi
semakin ganas dan membingungkan. Buruk bisa terlihat baik indah dan menawan
begitu pula dengan yang buruk bisa terlihat cermerlang dan ranum akbiat
teknologi dan sistem menajemen organisasi.
Search
About
Popular Posts
-
Banyak yang suka pamer kebodohan dengan pakaiaan kepintaran, orang banyak mengeluhkan dampak negatif smartphone, internet dan media so...
-
Kemarin malam. Tepatnya malam minggu, Setelah pulang dari Gyem lok Oyok menyumpahi para cecunguk-cecunguk yang tengah asyik MABAR Mobile Le...
-
Sekolah lapang agrobisnis kedelai adalah sebuah program yang di galakan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan pemerintah Desa Sese...
Blogroll
Categories
Blog Archive
Bersengg Agama
Bilamana Senjakala Tiba, Doa-Doa kami saling bicara, hingga petang menjelang, Seperti suara Air mengalir💧 dan kiacawan burung🐦Kacer, Mel...

0 komentar:
Posting Komentar