berbagi cinta dengan penuh candaan dan lawakan adalah salah satu cara untuk menstandarkan diri dengan teman dan saudara sekitar lingkungan hidup kita

On April 04, 2020 by Kojerisme in    No comments


Tengah malam itu, bokel tak sengaja mendengar suara riuh di tepi jalan dekat warung bakulan milik H. Misbah, ia berjalan  mengendap endap menuju suara itu dan  melihat segerombolan anak muda yang lagi duduk melingkar berjamaah, masing-masing memegang kartu berwarna kuning berukuran kira-kira 1,75 cm x 3,5 cm.  Bokel mencoba mendekati mereka dan ternyata segerombolan anak muda itu adalah teman-temannya waktu di sekola Dasar.

“woooee Bokel ayok duduk, kita main kartu !” Sapa mereka dengan nada keras.

“ aku gak bisa main gituan bro, itu dosa, media percudian”, kata Bokel menolak dengan halus.
“ Ayoo lah, lagian kita gak judi kok. Hanya main-main, dan ini bisa membangun solidaritas kita antar kawan dan sahabat Kel” jawab salah satu temanya sambil membanting kartu hingga mengeluarkan suara “Ceeplaaaaaaaaakk”.

Bokel anak yang polos, besar dikeluarga sohibul ilmi ahlul ilmi, namun dalam hatinya ia tertarik untuk mencoba hal-hal baru di luar lingkungan kelurga alimnya. Terbersit dalam hatinya untuk mencoba menjadi anak yang gaul seperti kawan-kawanya yang lain. Akhrinya Bokel menerima ajakan segerombolan anak muda dan masuk dalam lingkaran itu.


“terusteranglah aku dulu pernah beberapa kali main kartu seperti ini dengan kakak-kakak misanku dirumah,” sindirnya, biar tidak telihat katro-katro amat didepan kawan-kawannya.
“yaaaah,, kamu hebat doong, kami bisa andalkan kamu main di Koko bawak”. sebuah sungai yang  dekatnya terdapat bangunan multi fungsi yang sering digunakan untuk sembahyang dan kalau malam bisa dijadikan tempat perjudian bahkan permabukan.

“ooohh iya, kan kamu anak baik dan alim, gak berani  sih kita ngajakin kamu kesana”, Sambut Si Kebot, Senior dunia hitam yang kebetulan ikut bermain kartu disitu.

Celotehan si kebot sang penjaga perbatasan sekaligus Senior dunia hitam itu membuat Bokel merasa kecil dan merasa diremehkan, lalu ia merasa geram, jiwa kriminalnya mulai bangkit.

Kartu demi kartu di hempaskan dan di banting “Ceplaaaaak Ceplaaaaaaakkk”

“tidak ada yang berani melarang kita ribut disini Kel, sekarang tempat ini adalah kekuasaan kita, yang dulu-dulu itu sudah pada tua”. Kata Kebot seraya merasa angkuh dan berkuasa.
“Iya.. kita adalah penerus gangster-gangster kampung yang sudah tua-tua itu” Celetuk Si Ongki sehabis memsang kartu palang kosongnya.
“kita akan membangun persatuan dunia hitam, dan meunjukan kepada warga kampung ini, bahwa kita mampu mengalahkan dominasi orang-orang yang sok soleh dan baik itu.
“Buhahahahaha,” serempak mereka tertawa 

Mendengar obrolan ini, Bokel beristigfar dalam hatinya, karena tidak menyangka bahawa tujuan perkumpulan ini sangat aneh dan sangat menyimpang dari nilai-nilai serta norma yang berlaku di kampung itu. Tapi tetap dalam hatinya, bahwa ia harus mencicipi dunia hitam yang kren dan gaul itu. Bokelpun menerima ajakan Si Kebot untuk ikut ke Kokok bawak.

“gak kita di marah nanti, soalnya kan km anak Tuan Guru, di kenal sebagai anak yang rajin, nanti kami disangka mengajakmu ke jurang-jurang Neraka ini” Nasehat si Senior dunia hitam itu.
“aku sering dikekang dirumah, pergi dari rumah sebentar saja dicari sama utusan bapak dan Ibuku, pokoknya dikit-dikit dicari lah. situasi ini membuatku tidak nyaman dan gak betah, makanya aku sering keluar rumah malam-malam untuk sedikit mencari insfirasi, dan kebetulan  sekali aku beretmu kalian di tongkrongan ini”.

Pendek kata, menurut Bokel, dirinya itu perlu inspirasi untuk bisa menjadi orang yang baik sekaligus bercampur jahat. Dan salah satau refrensinya adalah kawan-kawannya di tongkrongan kampung itu.

“okeh Sudah, besok malam kita pergi ke kokok bawak, kalau ada berapa bawalah untuk kita main. Tapi nanti kita harus merayakan persatuan kita ini Kel. Karena kita adalah generasi tongkrongan ini” jawab si Kebot dengan senyum berbinar.

Jauh sebelum generasi si Bokel, memang Tongkrongan H. Misbah itu sangat bersajarah bagi Sesepuh-sesepuh dunia hitam di kampung itu. Dulunya pernah terjadi perkelahian sengit antar tokoh-tokoh pereman, tempat pertemuan untuk baku hantam, mabuk mabukan bahkan prostitusi. Pernah beberapa kali H. Misabah melakukan mencegahan agar mereka tidak kumpul ditempat itu, seperti merusak teras rumahnya agar tidak ada tempat nongkrong, menaruh lampu untuk menerangi agar mereka malu berbuat penyimpangan disitu, namaun apa. setiap lampu mereka ambil dan jual untuk memperpanjang peradaban mereka.

Malam itu membuat si Bokel semakin akrab dengan si Kebot, obrolan tentang dunia hitam yang asyik membuat Bokel tertarik lebih dalam lagi.

“ini Sudah Subuh, ayook kita pulang karena sebentar lagir warga akan melwati tempat ini menuju kemasjid. Oooh Ya Bokel kalau kamu mau tidur ayook kita tidur bareng dirumah ! disana asyik kita dapat tidur puas mau bangun jam berapapun bisa..”

Awalnya Bokel menolak ajakan itu, namun untuk menjadi anak Gaul ia harus ikut tidur dimarekas tersebut. Samapai di marakas itu Bokel menyaksikan  kamar yang cukup bau, bantal guliung warna putih sudah terlihat hitam pekat, putuk rokok berserakan dan yang paling menjijikan adalah kencing dan ludah disetiap sudut ruangan menghiasi. Jika Virus Corona masuk ke dalam kamar itu ia pasti akan betah, bahkan bisa ia jadikan istana Virus.

“kamarnya siapa Ini.” Tanya Si Bokel sambil menahan rasa bau yang menusuk hidung.
“Kamarku” jawab Si Ongki dengan bangga.
“ini memang kamar Remaja Gangster yang kren Kel” Kebot menambahkan dengan lagak sedikit ngantuk.
“Kamu sudah ngantuk Bot, Ayok dah kalau gitu kita tidur besok kita lanjutkan kembali” ungkap Bokel yang juga sedikit ngantuk.
“Okeh” Kebot langsung ngorok, air liurnya kesana kemari menambah aroma khas kamar Remaja Gnerasi dunia hitam itu.

Merekapun tertidur pulas, siapa yang pertama bangun itu tandanya prestasi kenakalanya masih rendah dan akan mendapatkan buliy dan di olok-olok.

Bokel bangun sekitar pukul 10:00 Pagi dan itu termasuk bangun dijam yang konyol dan memalukan, karena waktu terbaik untuk bangun tidur bagi anak gaul adalah pukul 2 atau 3 sore.

Malam tiba, saatnya Si Bokel pergi ke KOKO BAWAK untuk berjudi bersama dengan penjudi-penjudi dari setiap penjuru kampung tersebut.

“udah kamu bawa uang itu” kata Si Kebot, Memastikan modal.
“sudah ni, saya membawa 100 ribu Rupiah”
“okeh ayoo Kita Turun kawan-kawan” kata si kebot sambil mengayunkan tangannya isyarat turun bersam ke KOKO BAWAK.

KOKO BAWAK bejarak sekitar 100 M dari tongkrongan H. Misbah itu, dan terletak dibawahnya sehingga di namakan KOKO BAWAK.

“dengan siapa kita akan bermain disana” tanya Bokel kepada si Kebot.
“Liat saja nanti” JAwab Si Kebot.

Dan ternya tak di sangka-sangka di Kokok Bawak Bokel bertemu dengan orang-orang tua yang sering ia lihat di rumahnya. Yaa persisnya anak buah bapaknya yang sering mencarinya ketika tidak ada dirumah. Dia juga melihat seorang ustaz yang sering ngajar di pondok bapaknya sedang menguk minuman yang dibungkus dengan pelastik berwarna ping. Golis uiga melihat teman-temanya yang sering ke masjid juga ikut bermain kartu dan sesekali meneguk air Nira itu.

“eee Bokel, Ayoo Sini Duduk Sama Paman”. Kata bapak yang sering dirumahnya itu.
Dengan gemetar dan bibir terasa berat Bokel menjawab “Giih Paman.
“kamu jangan takut, gak ada yang bakalan memberi tahu keluargamu kalau kamu berjudi disini”. Kebot menyemangati.

Tiba-tiba juga Utsaz itu menghampiri Si Golis dan berkata
“ Assalamualaikaum Gus Bokel” seraya mencium tangan Golis.
“Silahkan Minum” sambil Menyguhkan Gelas berisi Tuak.

Hati dan pikiran Golis Tidak menentu dan diselimuti oleh keheranan yang sangat tinggi.
Dan berpikir. Seolah-olah semua ini biasa saja laaaahh.
“ternyata Aku adalah anak yang paling Culun dan polos, orang-orang suadah kenakalannya tingkat tinggi sedangkan aku baru saja memulai”

Ia menyesal kenapa saya tidak dari dulu bergaul dan ikut bersama golongan para pereman kampung.

“padahal aku sudah mengklaim diriku, bahwa di generasiku akaulah yang paling nakal” merenung.