On Juli 13, 2018 by Kojerisme in peroses belajar No comments
خمسة أيام على الرمال البيضاء
(five day in Pasir Putih)
Berawal
dari cerita saya ke Semeton (Saudara) Sibawaih di
BTN Gegutu indah Desa Midang tentang saya yang berkeinginan untuk terus
belajar mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak banyaknya, Siabawaih
menawarkan saya untuk datang ke Pasir Putih untuk belajar sekalian untuk MABAR (main bareng) mobile legend katanya, sayapun setuju dan bangga dalam hati karna ini saya
tunggu tunngu sejak selesai kegiatan Berajah Aksara Pasir Putih tahun 2017 di
desa Sesela Gunungsari. Di kegiatan brajah aksara tersebut, saya berpikir untuk melihat hal yang besar bukanlah dari
yang besar tapi sesuatu yang besar itu akan terlihat jelas jika kita melihat
dan membaca dari hal hal kecil seperti narasi narasi warga, pedagang, petani,
dan lain lain.
Sejak
tawaran Sibawih itu sayapun berangkat ke Pasir Putih hari Ahad tanggal 08 juli
2018 pukul 04:25 sore bersama Semeton Ijtihad direktur brajah aksara, sampai
disana saya bertemu dengan teman teman pasir putih dan semeton Abet seorang
peneliti, penulis dan pegiat kebudayaan asal padang Sumatra barat. Pada saat
itu sedang berlangsung jug salah satu kegiatan pasir putih, yaitu Ngaji Gubuk
dan kelas wah sebuah kegiatan yang menurut saya banyak memberikan edukasi dan pelajaran
penting bagi masyarakat dan anak anak SD, dalam keguiatan tersebut juga ada
pameren seni cap lampu dan nonton bareng film Amak Dahrun sampai pukul sebelas
malam.
Senin pagi sekitar jam Sembilan Pagi semua teman teman
pasir putih mengadakan rapat tentang pembuatan film dan berdiskui bersama Abet
membahas penelitiannya tentang Kebudayaan dan adat istiadat di Lombok. Saya
ikut mendengar dan mencatat apa yang di bahas peserta rapat pagi itu, dalam
rapat dan diskusi itu saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan terutama
tentang Budaya adat istiadat dan pariwisata di hamper semua desa dan kecamatan
di kabupaten Lombok utara, di rapat yang berlangsung selama kurang lebih
Sembilan jam itu saya mengerti bahwa inilah proses belajar.
Pada malam selasa selesai makan dan main mobile legend
sekitar pukul 09:00 saya mulai berpikir bahwa di Pasir Putih belajar itu bukan
hanya sekdar mendengarkan orang yang pintar berbicara di depan, melainkan
belajar itu adalah bagian dari peroses, dan proses itulah sebenar benarnya ilmu
dan pengetahuan yang paling bermanfaat karna Ghazali selaku direktur Pasir
Putih berkata kepada saya di sela sela rapat “jalani dan ikuti apa yang nantinya kamu bisa temukan Di Pasir Putih
jangan terlalu tidur, pokonya banyakin nonton film dan baca buku aja dulu”
selasa siangnya sekitar pukul 13:14 WITA saya mendekati semeton Okak okok
selaku Direktur Bangsal Menggawe dan Bioskop Pasir Putih untuk minta
rekomendasi dia tentang film apa yang musti saya tonton.
Semeton oka merekomendasikan saya film jepang yang
berjudul Ratap sendu Osaka (bahasa Indonesia) yang dibuat buat pada tahun 1936 oleh
sutradara dari Jepang bernama Kenzi Mizogochi yang bercerita tentang perempuan
bernama Ayako bekerja sebagi karyawan di perusahaan parmasi di Jepang. Ayako
bisa dibilang perempuan karir atau tulang punggung keluarga setelah ayahnya
menjadi buronan karna telah menggelapkan anggaran perusahaan tempat dia
bekerja.
Ayako
dan adiknya Saciko merasa bosan dengan tingkah laku ayahnya yang tidak mau
bertanggung jawab terhadap perbuatannya, disamping itu setiap waktu utusan
perusahaan terus saja mencari ayahnya untuk menuntut pertanggung jawaban, rasa
tidak kuat dan malu membuat Ayako bertengkar dengan ayahnya Ayakopun di usir
dari rumah dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dari perusahaaan
parmasi. Ayako mencari uang dan rela menjadi selingkuhan orang kaya untuk
mendapatkan untuk menebus utang bapaknya. Waktu berjalan Ayako yang lugu dan
baik hati tak sadar tentang perubahan dirinya yang mewah menjadikan ia lupa
segalnya dan bahkan akhirnya dia tidak di terima oleh keluarganya lantaran
telah banyak di ketahui oleh semua orang bahwa dia pernah di tangkap polisi
karna menipu banyak orang.
Selesai menonton saya duduk santai meroko di depan teras
depan kantor Pasir Putih sambil menikmati sinar matahari sore, okak mengajak
saya untuk mendiskusikan film Ratap sendu Osaka yang baru saja selesai saya
tonton, disitu semeton Oka banyak menjelaskan kepada saya tentang bagaimana
melihat dan membaca sebuah film dengan landasan ilmu tentang film dan
sejarahnya semeton Oka juga berbicara tentang sejarah film, video dan mesin
cetak beserta menyebut tokoh tokoh penemunya, dan seneton Oka berkata “memahmi karya film bukan hanya terletak pada
jalan ceritanya. Namun, kita juga harus
bisa membaca bahasa film, pergerakan kamera” pokonya yang berkaitan tentang
Audio Visual dalam sebuah film.
Hari kamis bangun kesiangan karna tadi malam bergadang
nonton semi pinal Piala Dunia antara timnas Inggir versus Kroasia, dan tak
terasa sudah hampir seminggu saya disini (Pasir Putih), rasanaya seperti saya
pertama kali KKP di Desa setiling kecamatan Batu Keliang Utara 2015 disana
hampir seminggu saya tidak pernah keluar posko hanay tidur tiduran saja, tapi
kalo di Pasir Putih seminggu di dalam rumah beraktivitas memasak, menulis,
nonton film, membaca buku dan berdiskusi, membuat hari hari saya bermanfaat,
merasa banyak hal baru dalam diri pribadi saya selama lima hari itu.
Selain nonton film. membaca buku adalah aktivitas yang
saya banyak lakukan di sini (Pasir Putih) terutma buku yang berjudul VIDEOBASE:
Vidio, Sosial, Historia karya Forum
Lenteng Jakarta. Buku yang direkomendasikan oleh Polong Ghazali untuk saya
abaca ini isinya antara lain tentang sejarah Media video, medium video sebagai
pembangunan sosial budaya masyarakat dan upaya memetakan peran teknologi
sebagai bagian dari integritas bangsa. Buku yang 99 halaman itu sungguh
memiliki banyak kandungan, terutama tentang peran medium video dengan peradaban
bangsa di era orde lama dan orde baru.
Lima hari disini sangat bermanpaat bagiku, setidaknya
biasa memudarkan gelar mayus yang melakat pada diriku ketika dirumah (Sesela).
menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman itulah yang terpenting dalam fase
ini. Kebaikan itu harus menang dari keburukan oleh karna itu belajar
menyampaikan kebaikan dengan kebenaran
itu sangatlah penting supaya kita bisa mendeteksi keburukan dan kejahatan yang
disampaikan dengan kebenaran, berbohong dengan kebenaran bisa bisa saja
dilakukan tapi itu pasti akan jauh dari kebaikan.
Diskusi kebudayaan ( Knator psir putih)
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
About
Popular Posts
-
Banyak yang suka pamer kebodohan dengan pakaiaan kepintaran, orang banyak mengeluhkan dampak negatif smartphone, internet dan media so...
-
Kemarin malam. Tepatnya malam minggu, Setelah pulang dari Gyem lok Oyok menyumpahi para cecunguk-cecunguk yang tengah asyik MABAR Mobile Le...
-
Sekolah lapang agrobisnis kedelai adalah sebuah program yang di galakan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan pemerintah Desa Sese...
Blogroll
Categories
Blog Archive
semeton jori senamian. Diberdayakan oleh Blogger.
Bersengg Agama
Bilamana Senjakala Tiba, Doa-Doa kami saling bicara, hingga petang menjelang, Seperti suara Air mengalir💧 dan kiacawan burung🐦Kacer, Mel...




