berbagi cinta dengan penuh candaan dan lawakan adalah salah satu cara untuk menstandarkan diri dengan teman dan saudara sekitar lingkungan hidup kita

On Desember 29, 2020 by Kojerisme in    No comments

 

Banyak yang suka pamer kebodohan dengan pakaiaan kepintaran,  orang banyak mengeluhkan dampak negatif smartphone, internet dan media sosial terhadap kebobrokan moral generasi bangsa, namun tidak ada satupun gerakan sistematis yang dibangun untuk membendungnya, melihat ini, sama dengan situasi perasaan sepasang kekasih yang sedang dilanda “benci tapi merindu”, mengutuk media sosial lewat media sosial. Kalau di cermati secara mendalam, setiap kemajuan yang menimpa  generasi bangsa pasti bertujuan untuk  mempermudah setiap urusan dalam segala bidang, kemajuan dilihat oleh sebagian orang sangat identik dengan mesin atau secera garis besar sering disebut dengan kemajuan teknologi.

Kemajuan teknologi sama sekali tidak ada urusan dengan moral anak bangsa, moral sejatinya di pupuk dari komunikasi positif dan merutinkan pemberian nutrisi pikiran dan hati (perasaan). Jadi terlalu bertepuk sebelah pikir jika media sosial di tuduh sebagai biang kerok atas hancurnya moral generasi bangsa. Media tekonologi informasi sejatinya adalah media untuk mempermudah penyebaran peristiwa baik yang bernuansa negative maupunl positif, kesalah kaprahan dalam menafsirkan kemajuan teknologi kemungkinan besar karena ia didominasi datang dari Barat bukan dari timur. Oleh sebagian banyak orang Setiap yang datang dari barat dinilai sebagai sesuatu yang bughot (keluar dari ajaran moral).

Tidak ada hukuman pada media, sehingga ia tidak bisa di adili oleh siapapun, semisal lihatlah Aplikasi tik tok yang sekarang tengah mewabah keseluruh penjuru negri, di jadikan media untuk berekpresi oleh para remaja dan pemuda Indonesia, namun karena Tik tok didominasi oleh para gadis yang hobi menyedekahkan kemolekan senyum dan keindahan tubuh ciptaan Tuhan itu, lalu tik tok lah yang di anggap sebagai pemeran utama dalam memberi ruang untuk memporak porandakan moral generasi bangsa, padahal jelas sekali itu hanya tergantung pengguna tik tok itu sendiri, dan segala yang Indah dan membuat orang bersyukur pasti akan lebih digemari oleh warganet Indonesia.

Entah siapa yang pertama kali membawa istilah baik dan buruk, padahal semua orang hidup dan mencari makan lewat istilah itu. Lihat Pelacur, pencuri, pencopet,germo, koruptor,penjual daging babi,pembunuh bayaran dan lain lain mereka semua bersetubuh dengan keburukan supaya dapat merasakan orgasme dengan rizki anugrah Tuhan. dan coba lihat Motivator, penceramah, Polisi, Guru di Sekolah, PNS dan lain lain meraka harus dan butuh menghakimi, mencerca dan mengutuk keburukan di setiap tempat, waktu, momen dan kesempatan demi meraih ketenaran dan mencukupi kebutuhan hidup. Kejahatan dan keburukan di umpat dituding-tuding malah sering dituduh sebagai pembawa bencana alam dan malapetaka. itu semua dilakukan sebagai profesi dan keahlian untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan primer, skunder dan tersier.

moral hanya dagangan laris manis ketika pegalaran pemilu akan digelar, media masa dan cetak sebagai promotor yang di perbutkan untuk mempermudah pemasaran supaya cepat sampai pada konsumen (warga). Tidak ada yang salah dengan strategi ini, semua yang dilakukan pasti ada sebab dan akibatnya, entah itu di nilai positif atau negatif tergantung wawasan konsumen dalam membaca dan memilah barang yang diperjual belikan di pasar moral. Tidak ada seorangpun yang sudi ketika keburukannya diperlihatkan dimuka umum, meskipun ada, itu hanyalah kampulase supaya tidak diakatakan muanfik, lantas berlaga bahwa ia natural tampil apa adanya di media, padahal hanya Tuhan yang tahu niat dan tujuan hambanya.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat membuat segala sesuatu menjadi transparan, namun kadang penuh kepura-puraan belaka, belakanagan ini peperangan sering berlangsung lewat media mainstream yang kadang isu-isu hoax dan sejarah masa lalu dijadikan amunisi untuk menyerang lawan demi memenangkan pertarungan di dunia maya, keselahan dicari-cari lewat jejak digital seperti gamabar dan video lalau disebarkan di media sosial dengan sedikit bumbu qaption sebagai penyedap warganet untuk menonton kemudian menyebarkan.

Dari rangkaian di atas kita bisa sedikit berhipotesa, bahwa tidak ada korelasi antara kehancuran moral dengan kemajuan teknologi, tapi kejahatan (dosa) akan mudah dilakukan secra sistematis efektif, efisien dan masip begitu juga dengan kebaikan. Khittoh dari teknologi yaitu untuk hijrah dari kesulitan menuju kemudahan. Seperti apa yang telah di mention oleh Imam Ali Bin Abi Thalib “Kebenaran (kebaikan) yang tidak terorganisir akan kalah melawan Kebatilan (keburukan) yang terorganisir”. Hadirnya teknologi sebagai penjelmaan dari kebaikan dan keburukan yang bermetmorfosis menjadi semakin ganas dan membingungkan. Buruk bisa terlihat baik indah dan menawan begitu pula dengan yang buruk bisa terlihat cermerlang dan ranum akbiat teknologi dan sistem menajemen organisasi.


On Desember 09, 2020 by Kojerisme in    No comments


 

On Desember 09, 2020 by Kojerisme in    No comments


 

On Desember 09, 2020 by Kojerisme in    No comments


Semenjak Kehadiranya yang amat tidak disukai

Oleh orang-orang yang sok suci itu

Sepasang keksaih dengan nama Tuak dan Purek

Memutuskan menikah dalam botol sirup ABC kadang botol Marjan

Dan bersetubuh dengan posisi Purek jadi bawah semacam Misonaris Style


“Aku mencintaimu, Tuak”, kata Purek.

“aku juga mencintaimu, pahit!” jawab Tuak,

“tapi kita tidak bisa saling memiliki, kita adalah milik pusing!”


Kemudian Purek dan Tuak dipisahkan begitu saja dengan

Dalih menjijikan, padahal kisah cinta mereka akan selalu tumbuh dalam

Botol dan otak penggemarnya, meski selalu berakhir dengan terpisah